MENGENAL SPECIES ORYZIAS WOWORAE DAN BAGAIMANA KEBERHASILAN DALAM BUDIDAYANYA
Oryzias woworae adalah ikan endemik di perairan tawar Pulau Muna, Sulawesi Tenggara (Parenti & Hadiaty, 2010). Ikan ini memiliki warna biru-keperakan dan sirip kemerahan atau oranye pada ikan jantan. Pada individu betina didominasi perak kekuningan (Parenti & Hadiaty, 2010; Parenti et al., 2013).
Saat ini ikan O. woworae memiliki warna yang khas dan statusnya yang endemik menjadikan jenis Oryzias ini sangat unik sebagai ikan hias asli Indonesia.
Ikan O. woworae jantan dan betina telah diperjual belikan di pasar lokal maupun internasional. Diketahui harga ikan ini di pasar lokal yaitu Rp. 8.000,00-14.000,00/ekor, sedangkan harga di pasar mancanegara mencapai 18 kali lipat.
Perbedaan Ikan Oryzias woworae Jantan dan Betina
Terlihat jelas perbedaan antara ikan O. woworae jantan dan betina, untuk yang jantan dilihat dari warna pada dorsalnya berwarna biru dan sirip dada yang memiliki warna kemerahan. Sedangkan betina, warna tubuhnya cenderung didominasi dengan warna kuning keemasan dan memiliki bentuk tubuh buncit.
Ikan O. woworae jantan dan betina termasuk jenis ikan karnivor. Hal ini diketahui dari spesies ikan Oryzias lainnya yang memakan Artemia, seperti pada ikan O. latipes dan O. melastigma (Ye et al. 2012). Selain itu pada spesies O. wolasi dan O. sarasinorum diketahui memakan zooplankton (Parenti et al., 2013, Gani et al. 2015).
Keberhasilan Budidaya Oryzias Woworae di Indonesia
Pemijahan Ikan Oryzias Woworae
Pemijahan ikan O. woworae bisa dilakukan dengan beberapa tahap, diantaranya sebagai berikut:
1. Pemilihan indukan ikan O. woworae
2. Memperhatikan tingkah laku dan Media pemijahan
3. Memperhatikan teliur ikan O. woworae
4. Melakukan pengamatan Embriogenesis
REFERENSI:
Firmansyah, M. A., Mustahal, M., Syamsunarno, M. B., Septian, I., & Herjayanto, M. (2022). Tingkah Laku Pemijahan Oryzias woworae Ikan Padi Endemik Pulau Muna, Sulawesi Tenggara Berdasarkan Nisbah Kelamin Induk Berbeda. Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, 6(2), 131-140.
Komentar